Prajurit wanita dalam warta

Minggu, 01 Mei 2016

Ebeg, Jaranan dari Bumi Ngapak

Pemain Ebeg Khas Banyumas
 “Buka-bukak, bukak-bukak, bukak tutup, lo lo lo lo lo, jak jak jak,” triakan dari salah seorang sinden ebeg saat penampilan ebeg tengah berlangsung.

Sinden yang menyanyikan lagu eling-eling sebagai pengiring ebeg, mendendangkan lagu diiringi senandung gamelan.

Penari ebeg melenggak-lenggok memainkan jaranan yang dipegangganya dan berlagak seolah-olah sedang mengendarainya.

Dengan dandanan yang njawa dan busana yang juga njawa, pemain ebeg Banyumas memamerkan atraksinya. Siapa sangka, kesenian ebeg ini masih bertahan hingga kini, meski sudah tak setenar dulu.

Ebeg jaranan dari bumi Ngapak merupakan bentuk kesenian tari daerah Banyumas yang menggunakan mainan kuda-kuduan yang terbuat dari anyaman bambu. Tarian ebeg di daerah Banyumas menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. 

Gerak tari yang menggambarkan kegagahan dan kekuatan pria sejati. Dandanan dan gerakan yang memikat lirikan tiap mata. Masyarakat beramai-ramai melihat pertunjukan ebeg, mereka tetap menganggapnya istimewa setelah beratus-ratus tahun lamanya.


Ebeg disebut kesenian klasik karena setiap kali pentas para pemainnya kesurupan atau biasa disebut wuru. Bentuk kesenian yang mencirikan wuru lahir pada zaman animisme dan dinamisme. Kesenian yang biasa ditampilakan pada acara-acara tertentu ini merupakan budaya asli dari Jawa Banyumasan, sebab didalamnya, tidak nampak pengaruh dari kebudayaan manapun.

Berbeda dengan wayang yang merupakan apresiasi budaya hindu India denan berbagai tokoh-tokohnya. Ebeg sama sekali tidak menceritakan lakon tertentu dan tida teikat agama tertentu, baik Hindu maupun Islam.

Lagu-lagu yang mengiringi gelagat penari ebeg merupakan refleksi kehidupan masyarakat tradisional, berisi langgam pantun, wejangan hidup dan mengisahkan tentang ebeg itu sendiri. Lagu yang dilantunkan dalam pementasan ebeg hampir seluruhnya menggunakan bahasa Jawa Banyumasan, bahasa ngapak lengkap dengan logat khasnya.

Sekar Gadung, Eling-eling, Ricik-ricik Banyumasan, Tole-tole, Waru Doyong, Ana Maning Modele awong Purbalingga dan lain-lain adalah deretan lagu yang mengiringi ebeg di panggung pentasnya.

Dalam suatu sajian ebeg akan melalui satu adegan yang unik dan biasanya menjadi acara pamungkas dalam pertunjukan ebeg. Atraksi pamungkas tersebut dikenal dalam bahasa Banyumasan dengan istilah babak janturan. Pemain akan terhanyut dan mendem atau wuru (kesurupan) lalu mulai melakukan atraksi-atraksi unik yang menantang maut.

Bentuk atraksinya seperti makan beling atau pecahan kaca makan dedaunan yang belum matang, makan daging ayam yang masih hidup, berlagak seperti monyet, ular, dan lain-lain. Atraksi in trance (kesurupan) ini hanya dimainkan oleh pemain yang memiliki indang atau "pembantu".

Masing-masing pemain memiliki varian indang yang berbeda. Di antaranya indang kethek, yang mengantarkan pemain pada kondisi in trance meniru perilaku monyet indang jaran, indang mayid, indang macan dan lain-lain.


Share:

1 komentar:

Ordered List

Sample Text

Definition List

Theme Support