Dewi Lestari menggoda pembacanya dengan letupan kata-kata dalam 11 kisah pendek. “Rectoverso” hadir dengan balutan kisah cinta yang seperti biasanya begitu menggebu namun tertahan dalam kerongkongan, terpekik oleh keadaan dan situasi yang sering sekali romantik.
Bagi seseorang yang merasakan cinta namun tak sanggup mengungkapkannya, mungkin akan sangat bersahabat dengan buku ini. Bagaimana tidak, ke-sebelas tulisan “Dee”( nama pena Dewi Lestari) ini menggambarkan betul bahwa perasaan cinta adalah hak tiap individu, memedam pun kadang jadi pilihan terbaik.
“Aku menghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah. Aku sampai dibagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun, orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang Cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah ku miliki keutuhannya.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirim isyarat sehalus udara, langit awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.”
Begitulah salah satu cuplikan tulisan Dee dalam kisah “Hanya Isyarat”. Dee berhasil mengungkapkan cint yang terlihat sederhana namun berarti dalam bagi siapapun. Karya Dee ini juga telah diangkat dalam sebuah film berisi lima kisah manis namun mengiris. Diantaranya “Malaikat Juga Tahu”, “Firasat”, “Cicak di Dinding”, “Curhat Buat Sahabat” dan “Hanya Isyarat”.






0 komentar:
Posting Komentar