 |
| Perempuan Kampung Naga |
|
Kampung Naga, Menghormati Karuhun Di tengah Gejolak Zaman
Bertahan dalam perinsip nenek moyang tentu tak semudah dengan apa yang di bayangkan. Era globalisasi abad ke-21 membuat hampir seluruh manusia tak dapat menahan arus modern dan budaya barat.
Namun berbeda dengan salah satu kampung yang terselip di bagian Kabupaten Tasik.
Kampung Naga, Sebuah kampung dimana unsur-unsur kebudayaan dan adatnya sangat kental, mereka sangat menghormati warisan leluhur atau karuhun. Warga masyarakat di sana sangat menjunjung kesederhanan dan prinsip menyatu dengan alam.
Kampung naga memiliki luas tanah satu setengah hektar, beraada dalam suatu lembah membuatnya di kelilingi pegunungan, dialiri sungai, Ci Wulan. Di sebelah barat terdapat apa yang mereka sebut sebagai hutan keramat. Disebut hhutan keramat karena terdapat makam leluhur Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga mempercayai adanya makhluk halus, kepercayaan mereka mengenai itu masih sangat kental. Apabila ada yang tidak menghormati karuhun maka akan terjadi malapetaka.
Seluruh masyarakat Kampung Naga mengaku mereka beragama Islam, di sana juga terdapat masjid dengan masih menggunakan bedung sebagai penanda datangnya waktu sholat. Tetap menghormati budaya dan adat karuhun mereka tidak melupakan dan mengabaikan aturan agama. Pengajian bagi anak dan orang tua rajin di laksanakan.
Mereka beranggapan jika ingin melaksanakan ibadah haji, mereka tidak perlu repot-repot berangkat ke Tanah Suci Mekkah, cukup melakukan upacara Hajat Sasih. Upacara Hajat Sasih bertepatan dengan Hari Raya Haji yaitu 10 Rayagung (Dzulhijjah). Menurut kepercayaan mereka upacara tersebut sama dengan Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.
Berada di sebuah lembah membuat Kampung Naga begitu subur apalagi denga sungai yang deras menglir. Mereka menjadikan sawah sebagi mata pencaharian. Selain bersawah juga beternak seperti, ayam dan kambing. Karena sering di datangi pengunjung dari luar daerah bahkan mancan negara meraka juga menjual berbagai kerajinan tangan. Seperti kipas, piring dan wadah yang terbuat dari bambu, juga ada gelas dan teko yang tebuat dari batok kelapa dan hal yang unik adalah tas yang terbuat dari kulit pohon dan bidatang.
Rumah merupakan tempat tinggal yang cukup penting bagi masyarakat. Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah harus berasal dari bambu dan kayu. Atap rumahnya terbuat dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang dan lantainya terbuat dari bambu atau papan kayu. Posisi rumah juga harus diatur, tidak boleh sembarangan.
Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah mayarakat Kampung Naga tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong). Mereka juga tidak memperkenankan memakai perabotan rumah misalnya, kursi, meja, dan tempat tidur.
Setiap kebudayaan pasti meghasilkan karya seni, tak terkecuali masyarakat Kampung Naga, selain kerajinan tangan mereka juga menghasilkan alat musik. Terbangan, angkung, beluk dan rengkong merupakan jenis-jenis alat musik dan kesenian masyarakat ampung Naga.
Sayangnya, saat ini kesenian beluk sudah jarang dilakukan. Terdapat pantangan dan merupakan hal yang tabu apabila melaksanakan pertunjukan jenis kesenian dari luar kampung Naga seperti, wayang golek, dangdut, pencak silat dan kesenian lain yang mempergunakan waditra goong.
Bertanya tentang asal-usul Kampung Naga, mereka juga tak dapat menjelaskan asal muasalnya, ada beberapa hari dimana pantangan untuk tidak mengusut maslah asal-usul Kampung Naga. Mereka tidak menemukan titik terang mengenai asal-usulnya.
Mereka menyebut sejarah kampungnya sendiri dengan istilah “Pareum Obor”. Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti mati, gelap, sedangkan Obor berarti penerangan, cahaya, lampu.
Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, matinya penerangan. Sebab tak ditemukan bukti karena saat itu arsip atau sejarah mereka dibakar oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. DI/TII menganggap masyarakat Kampung Naga saat itu tidaka berpihak pada pihaknya.