Prajurit wanita dalam warta

Kamis, 28 April 2016

Jenang, Dodol dari Jawa Tengah

Jenang asli Kudus
Kenyal-kenyol saat digigit, menari kesana-kemari di dalam mulut, Jenang, merupakan makanan khas orang Jawa. Rasa khas Jawa memberikan sensasi yang berbeda. Makanan yang serupa dengan dodol ini telah bertahan sejak bertahun-tahun lalu. Masih bertahan meski gerusan zaman dengan beragam makanan yang juh berbeda.

Jenang biasanya ada saat perayaan-perayaan pernikahan atau khitanan. Warnanya coklat memikat, aroma ketan dan gula merah bercampur membentuk harmoni kenikmatan. Tak lengkap jika makanan ini tak hadir saat perayaan-perayaan istimewa. Jenang seperti menjadi sebuah syarat perayaan berjalan dengan baik.

Ketika perayaan pernikahan atau khitanan akan berlangsung, pemuda dan orang tua berkumpul satu RW untuk membuatnya. Ikatan silaturahmi dan tolong-menolong melengkapi kenikmatan jenang. Jenang dimasak dengan menggunaakan wajan super besar, karena pembuatannya disekaliguskan untuk beberapa hari selama perayaan berlangsung.

Rasa yang khas ini patut dicoba oleh setiap orang. Manis gula jawa menghadirkan nuansa yang khas. Perpaduan ketan dan santannya melengkapi bagian-bagian jenang. jenang patut dicoba oleh pelancong dari luar kota atau turis yang berkunjung.
Share:

“Surat Cinta untuk Kartini”, Kisah Cinta Tukang Pos

Cuplikan trailer "Surat Cinta untuk Kartini"
“Surat Cinta untuk Kartini” bercerita tentang Sarwadi, seorang tukang pos di Jepara yang sering mengantarkan surat-surat yang ditujukan kepada Kartini. Seperti yang digambarkan, Kartini adalah sosok pahlawan pendidikan atas kaum wanita pada saat itu.

Karena kedekatan Kartini dengan masyarakat cilik, Sarwadi semakin sering bertemu dengan Kartini. Pertemuan demi pertemuan membuat Sarwadi jatuh hati kepada Kartini.

Film yang di sutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis ini berlatar di tanah Jepara pada abad ke-19 saat Indonesia belum merdeka dan pendidikan formal masih sangat langka. Pendidikan hanya dinikmati oleh beberapa golongan saja, wanita dianggap tidak pantas untuk mengenyam pendidikan.

Film yang akan dirilis pada 21 April 2016 ini dibintangi oleh Chicco Jerikho sebagi Sarwadi dan Rania Putri sebagai Kartini. Rania Putri pada awalnya tak percaya akan memerankan tokoh Kartini pada film tersebut, sebab dia baru pertama kali terjun dalam dunia layar lebar. Gadis Sampul 2009 asal Surabaya ini mengaku sempat gerogi lawan mainnya Chicco, tetapi ia tetap optimis dan memita bimbingan dari Chicco.
Share:

Apa Kabar SBY?

Status SBY di twitter tentang kegiatan kesehariannya
Setelah menuntaskan tugasnya sebagai presiden pada 2014 lalu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menjabat sebaga ketua Umum Partai Demokrat untuk periode 2015-2020. Selain tetap aktif dalam dunia politik SBY juga menghabiskan waktunya bersama keluarga, seperti bersantai bersama istrinya, berkebun besama cucu hingga berlibur ke luar negeri.

SBY juga mengisi berbagai seminar dan kuliah umum di berbagai universitas. Setelah masa pensiunnya SBY juga masih mendapat penghargaan dari beberapa institusi pendidikan seperti penghargaan Doktor Honoris causa Bidang Pendidika dan kebudayaan dari Universitas Soka, Jepang, ada juga Doktor Honoris causa dari Universitas Western Australia, Perth.

Pada tahun 2016 SBY juga mendapat penghargaan dari InstitutTeknologi Bandung sebagai Doktor Honoris causa dalam Bidang Pembangunan Berkelanjutan. Terakhir SBY memosting di halaman twitternya, ia mendapat Anugrah Upakaratama Reh Adiwangsa dari Universitas Negeri Semarang.

Penghargaan itu merupakan bentuk penghargaan atas jasanya dalam membangun demokrasi dan politik santun di Indonesia, selain itu anugrah tersebut juga merupakan bukti apresiasi dan kiprah SBY dalam menegakkan perdamaian dunia dan sebagai perumus konsep Sustainable Development Goals (SDGs).

Update terbaru SBY tentang penghargaan yang ia dapat ditanggapi positif oleh salah satu akun twitter pengikutnya. @WIRAKREASI mengomentari bahwa SBY layak menyandang gelar sebagai bapak pembangunan Indonesia.
Share:

Goes to Layar Tanjleb of Festival Film Purbalingga

Status Imam Hamidi Antassalam tentang FFP

Layar Tanjleb merupakan kegiatan yang sudah dilaksanakan sejak sepuluh tahun itu merupakan program unggulan Festival Film Purbalingga (FFP). Selama tiga pecan FFP 2016 akan berkeliling ke-20 desa seantero Banyumas Raya, seperti Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Cilacap dengan keterlibatan kelompok pemuda mengelola program. Dalam Layar Tanjleb akan diputar film Indonesia baik film pendek maupun film panjang.

Budayawan Banyumas, Imam Hamidi Antassalam memposting informasi ini melalui facebook. Dalam statusnya Imam mengajak penggiat desa dan lurah untuk turut serta dalam acara rutin tersebut. Imam menulis komentarnya dalam bahasa daerah Bnayumas dengan menandai beberapa akun facebook lain,

“Layar tanjlebanlah.. mangga kagem pegiat desa ples bapak2 lurah cc Bayu Setyo Nugroho, Manto Kalibagor, Ratman Hasby Ashidiq, Pemdes Wlahar Wetan, Sukarni Namaku, Muhammad Irsyadul Ibad Sy, Latief Akhmad, Budi Satrio Ragiel, Abdulloh Amir, Muhamad Hasan Mubarok, Hasan Basri, Zamroni, Kmpa Ighopala Iaiig Cilacap”

Imam juga mengunggah foto terkait waktu pelaksanaan FFP yang akan diselenggarakan pada 30 April-28 Mei 2016. Informasi mengenai FFP dapat diakses di www.clcpurbalingga.id. Terkait dengan lokas pelaksanaan kegitan FFB panitia menyerahkan pada usulan warga Banyumas Raya dan bagi siapa saja yang tertarik bekerja sama agar desa atau wilayahnya dijadikan lokasi Layar Tanjleb dapat mengirim nama, alamat lengkap dan nomor seluler. Panitia akan menyurvei lokasi yang telah diusulkan.


Share:

BandungOKE TV, Media Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung

Team Bandung OKE TV tahun kepengurusan 205/2016
Sebagai seorang mahasiswa yang bermutu tentu perlu adanya kemampuan-kemampuan dasar yang perlu dilatih dengan praktek, tak hanya melulu persoalan teori. Hal ini tentunya yang juga diperlukan oleh mahasiswa jurusan jurnalistik UIN Bandung, Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Media pembelajaran sangat diperlukan untuk menunjang kemampuan.

BandungOKE TV, media berbasis televise streming ini menjadi salah satu wadah berkarnya bagi mahasiswa jurnalistik. Didirikan dibawah bimbingan dosen fakultas Dakwah dan Komunikasi, dimaksudkan untuk melatih kemampuan mahasiswa di dunia jurnalis.

Selama empat tahun terakhir ini banyak karya-karya yang sudah dipublikasikan lewat website tv.bandungoke.com. Berita seperti straight news, feature dan entertainment. Ada beberapa konten acara yang berbeda dari tahun lalu, seperti The Community dan Bandung Historis.

The Community menyorot segala aktivitas suatu komunitas di Bandung, sedangkan Bandung Historis mengupas nilai-nilai sejarah kota Bandung seperti museum, gedung-gedung lawas dan segala yang berkenaan dengan sejarah. Kedua program tersebut merupakan program terbaru yang dikembangan dalam entertainment.

Selain kedua program tersebut ada juga talk show yang baru saja lending beberapa minggu yang lalu yaitu OMG (Obrolan Mahasiswa Gaul). OMG ini diisi dengan konten-konten yang inspiratif, yaitu seputar prestasi-prestasi mahasiswa UIN Bandung.

Menjelang setengah periode kepemimpinan BandungOKE TV, Wahyu Abdurrahman, berencana dan bahakan sudah mempersiapkan keperluan-keperluan untuk melancarkan program terbarunya yaitu konvergensi media. Menurut penuturannya, desain radio BandungOKE TV dan citizenOKE sudah dibuat di website BandungOKE TV,

“Kami sudah membuat desain radio BandungOKE TV dan citizenOKE sudah dibuat di website BandungOKE TV, rencananya Bulan April yang akan datang akan kita jalankan,” ungkapnya. Wahyu juga menambahkan tujuan dari pembuatan program tersebut arena melihat minat mahasiswa yang bukan anggota begitu besar untuk mengembangkan bakatnya di dunia jurnalis.

Tanggapan positif datang dari salah satu anggota BandungOKE TV, Pajar Ilahi mengaku mendapatkan ilmu untuk bekal pekerjaannya suatu hari nanti. Ilmu yang didapat seperti tata cara liputan, wawancara, penulisan naskah hingga editing ia dapatkan disini. Ia menambahkan jika banyak pengalaman berharga yang didapatnya. Selain itu kedepannya ia berharap akan lebih banyak pembekalan-pembekalan dalam pencarian berita.
Share:

Mahasiswi UIN Bandung dalam Organisasi dan Dunia Jurnalis

Proses reportase mahasiswi Jurusan Jurnalistik UIN Bandung
Dalam corong pendidikan secara aktif, mahasiswa perlu berperan secara utuh. Menggeluti berbagai bidang organisasi adalah salah satu cara untuk mengembangkan diri.

Mahasiswa memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, mengigat pengalaman pendidikan dan pengetahuan lebih mumpuni. Seyogyanya imbas ilmu pengetahuan mampu berimplikasi pada tataran sosial, oleh sebab itu pengalaman berorganisasi juga sangat diperlukan. Begitu pula yang selama ini di geluti oleh mahasiswi UIN Bandung.

Berbagai organisasi baik intra maupun ekstra bermanfaat bagi kemampuan mahasiswa itu sendiri. Salah satunya adalah organisasi berideologi kejurnalistikan. Dunia jurnalistik menjadi salah satu tonggak pendobrak kebobrokan ini pasti menjadi tempat yang cukup menarik bagi mahasiswa.

LPM SUAKA, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak dalam dunia jurnalistik menjadi pilihan bagi mahasiswa yang kritis pada perkembangan birokrasi dan lingkungan kampus hijau. Tantangan dalam organisasi dan dunia jurnalistik memiliki rasa yang berbeda ketika mahasiswi berperan didalamnya.

Kegitan jurnalistik tidak ada menguras energi fisik tetapi juga mental dan pengetahuan yang luas. Sebagai contoh, seorang jurnalis harus mamp berkecimpung dalam dunia yang penuh dengan intrik, tantangan sosial dan budaya, bagaimana seorang jurnalis harus mampu menghadapi narasumber dari berbagai elemen, entah yang berpendidikan maupun tidak, entah yang beretika atau tidak. Sebagai seorang perempuan tentu tantangan sedemikian banyak itu menjadi persoalan yang tidak mudah dihadapi.

Sebagai mahasiswi dengan berbagai kepentingan harus mampu membagi waktu. Urusan perkuliahan tak boleh terbengkalai, kepentingan organisasi juga tak bisa terlewatkan. Bagi Siti Nurasiah, mahasiswi semester enam jurusan jurnalistik, dunia kejurnalistikan adalah identitas . dia memilih dalam organisasi Bandung OKE TV di jurusannya. Membagi waktu jadi persoalan teknis, dia hanya perlu menyesuaikan jadwal kampus dengan kegitan organisasi.

Selain menjadi mahasiswi, Dede, panggilan akrabnya, juga aktif dalam pesantren. Peraturan pesantren yang melarang santrinya keluyuran pada malam hari pernah cukup mengganggu kegitan organisasi dan kejurnalistikannya, namun tak menjadi masalah karena lagi-lagi itu hanya persoalan teknis. Saat harus meliput kegiatan malam hari dia bisa memilih menginap dikosan temannya. Sebagai jurnalis dia harus tetap profesional, memanajemen waktu dengan apik.

Permasalahan membagi waktu berbeda lagi menurut Anisa Dewi , mahasiswi jurusan Sastra Inggris semester empat yang aktif di LPM SUAKA ini mengaku pada awalnya kesulitan, namun dia menganggap dengan menikmati apa yang ia kerjakan semua menjadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. Keterlambatan dalam mengumpulkan deadline kadang mengancamnya namun sebisa mungkin dia minimalisir.

Mahasiswa jurusan KPI, semester enam, Ayu Holilawanti Abdullah yang aktif dalam organisasi jurusannya, KPI TV. Dia mengaku permasalahan membagi itu gampang-gampang susah, lagi-lagi masalah teknis. Jurnalis tak dapat menawar ketika sebuah tragedy kecelakaan kereta api, misalnya, terjadi pada pukul tiga pagi, waktu itu juga mereka harus siap dan lagi-lagi harus mampu bermain dalam manajemen waktunya sendiri. Bagi Ayu, waktu luang (tidak ada jadwal perkuliahan) menjadi saat yang tepat baginya membahas produksi dalam media streaming-nya itu.

Mengingat dunia jurnalistik begitu menantang, Dede dan Anisa memjawab serempak, bahwa dunia jurnalistik cukup berat. Dede berujar, bahwa dunia jurnalistik bagi wanita itu terlampau beresiko apalagi kalau sudah menyangkut kerja malam. Anisa mengeluhkan bagaimana mencari narasumber yang mampu terbuka dan tak menghalang-halangi pekerjaannya sebagai jurnalis, karena untuk menembus tataran birokrasi tentu cukup sulit. Ayu menanggapi tantangan tersebut dengan berkata bahwa keasyikan berkecimpung di dunia pertelevisian streaming sama sekali tidak menjadi beban, selagi dia merasa nyaman di dalamnya.

Pada akhirnya kesenangan dan profesionalisme meneguhkan mahasiswi untuk tetap aktif di dunia keorganisasian dan dunia jurnalistik. Permasalahan manajemen waktu jadi persoalan teknis yang mempu dipecahkan dengan alternative lain. Tantangan yang sudah biasa dihadapi jadi keasikan tersendiri dan bahkan memjadi candu untuk terus bergelut dalam dunia yang telah mereka pilih.

“Setiap kegitan itu seru, semua tantangan bisa membuat mata saya terbuka. Dapat pengetahuan dan pengalaman baru dari semua segi kehidupan dan membuatku tahu bahwa sebagai manusia kita harus memahami segalanya bukan hanya satu hal,” tutup Dede saat ditanya tentang alasannya tetap memilih bertahan dalan organisasi dan dunia kejurnalistikan. Jawabannya juga senada dengan Anisa dan Ayu. Anisa mengungkapkan bahwa dunia jurnalistik membuatnya merasa kuat, bahkan Ayu dengan misi luhurnya, dia mengatakan bahwa tantangan tidak perlu untuk ditakuti, justru kita harus menghadapinya, semua tindakan perlu diniatkan karena Allah Swt dan diniatkan semuanya untuk berdakwah.
Share:

Ordered List

Sample Text

Definition List

Theme Support