Prajurit wanita dalam warta

Kamis, 28 April 2016

Mahasiswi UIN Bandung dalam Organisasi dan Dunia Jurnalis

Proses reportase mahasiswi Jurusan Jurnalistik UIN Bandung
Dalam corong pendidikan secara aktif, mahasiswa perlu berperan secara utuh. Menggeluti berbagai bidang organisasi adalah salah satu cara untuk mengembangkan diri.

Mahasiswa memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, mengigat pengalaman pendidikan dan pengetahuan lebih mumpuni. Seyogyanya imbas ilmu pengetahuan mampu berimplikasi pada tataran sosial, oleh sebab itu pengalaman berorganisasi juga sangat diperlukan. Begitu pula yang selama ini di geluti oleh mahasiswi UIN Bandung.

Berbagai organisasi baik intra maupun ekstra bermanfaat bagi kemampuan mahasiswa itu sendiri. Salah satunya adalah organisasi berideologi kejurnalistikan. Dunia jurnalistik menjadi salah satu tonggak pendobrak kebobrokan ini pasti menjadi tempat yang cukup menarik bagi mahasiswa.

LPM SUAKA, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak dalam dunia jurnalistik menjadi pilihan bagi mahasiswa yang kritis pada perkembangan birokrasi dan lingkungan kampus hijau. Tantangan dalam organisasi dan dunia jurnalistik memiliki rasa yang berbeda ketika mahasiswi berperan didalamnya.

Kegitan jurnalistik tidak ada menguras energi fisik tetapi juga mental dan pengetahuan yang luas. Sebagai contoh, seorang jurnalis harus mamp berkecimpung dalam dunia yang penuh dengan intrik, tantangan sosial dan budaya, bagaimana seorang jurnalis harus mampu menghadapi narasumber dari berbagai elemen, entah yang berpendidikan maupun tidak, entah yang beretika atau tidak. Sebagai seorang perempuan tentu tantangan sedemikian banyak itu menjadi persoalan yang tidak mudah dihadapi.

Sebagai mahasiswi dengan berbagai kepentingan harus mampu membagi waktu. Urusan perkuliahan tak boleh terbengkalai, kepentingan organisasi juga tak bisa terlewatkan. Bagi Siti Nurasiah, mahasiswi semester enam jurusan jurnalistik, dunia kejurnalistikan adalah identitas . dia memilih dalam organisasi Bandung OKE TV di jurusannya. Membagi waktu jadi persoalan teknis, dia hanya perlu menyesuaikan jadwal kampus dengan kegitan organisasi.

Selain menjadi mahasiswi, Dede, panggilan akrabnya, juga aktif dalam pesantren. Peraturan pesantren yang melarang santrinya keluyuran pada malam hari pernah cukup mengganggu kegitan organisasi dan kejurnalistikannya, namun tak menjadi masalah karena lagi-lagi itu hanya persoalan teknis. Saat harus meliput kegiatan malam hari dia bisa memilih menginap dikosan temannya. Sebagai jurnalis dia harus tetap profesional, memanajemen waktu dengan apik.

Permasalahan membagi waktu berbeda lagi menurut Anisa Dewi , mahasiswi jurusan Sastra Inggris semester empat yang aktif di LPM SUAKA ini mengaku pada awalnya kesulitan, namun dia menganggap dengan menikmati apa yang ia kerjakan semua menjadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. Keterlambatan dalam mengumpulkan deadline kadang mengancamnya namun sebisa mungkin dia minimalisir.

Mahasiswa jurusan KPI, semester enam, Ayu Holilawanti Abdullah yang aktif dalam organisasi jurusannya, KPI TV. Dia mengaku permasalahan membagi itu gampang-gampang susah, lagi-lagi masalah teknis. Jurnalis tak dapat menawar ketika sebuah tragedy kecelakaan kereta api, misalnya, terjadi pada pukul tiga pagi, waktu itu juga mereka harus siap dan lagi-lagi harus mampu bermain dalam manajemen waktunya sendiri. Bagi Ayu, waktu luang (tidak ada jadwal perkuliahan) menjadi saat yang tepat baginya membahas produksi dalam media streaming-nya itu.

Mengingat dunia jurnalistik begitu menantang, Dede dan Anisa memjawab serempak, bahwa dunia jurnalistik cukup berat. Dede berujar, bahwa dunia jurnalistik bagi wanita itu terlampau beresiko apalagi kalau sudah menyangkut kerja malam. Anisa mengeluhkan bagaimana mencari narasumber yang mampu terbuka dan tak menghalang-halangi pekerjaannya sebagai jurnalis, karena untuk menembus tataran birokrasi tentu cukup sulit. Ayu menanggapi tantangan tersebut dengan berkata bahwa keasyikan berkecimpung di dunia pertelevisian streaming sama sekali tidak menjadi beban, selagi dia merasa nyaman di dalamnya.

Pada akhirnya kesenangan dan profesionalisme meneguhkan mahasiswi untuk tetap aktif di dunia keorganisasian dan dunia jurnalistik. Permasalahan manajemen waktu jadi persoalan teknis yang mempu dipecahkan dengan alternative lain. Tantangan yang sudah biasa dihadapi jadi keasikan tersendiri dan bahkan memjadi candu untuk terus bergelut dalam dunia yang telah mereka pilih.

“Setiap kegitan itu seru, semua tantangan bisa membuat mata saya terbuka. Dapat pengetahuan dan pengalaman baru dari semua segi kehidupan dan membuatku tahu bahwa sebagai manusia kita harus memahami segalanya bukan hanya satu hal,” tutup Dede saat ditanya tentang alasannya tetap memilih bertahan dalan organisasi dan dunia kejurnalistikan. Jawabannya juga senada dengan Anisa dan Ayu. Anisa mengungkapkan bahwa dunia jurnalistik membuatnya merasa kuat, bahkan Ayu dengan misi luhurnya, dia mengatakan bahwa tantangan tidak perlu untuk ditakuti, justru kita harus menghadapinya, semua tindakan perlu diniatkan karena Allah Swt dan diniatkan semuanya untuk berdakwah.
Share:
Lokasi: Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Ordered List

Sample Text

Definition List

Theme Support